Selasa, 22 Februari 2011

Modul Pembelajaran Al-Quran dan Hadits Semester 2

BAB 1


HUKUM BACAAN LAM DAN RA
       Membaca Al Qur’an harus menggunakan kaidah-kaidah yang benar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah bacaan yang dapat mengubah makna. Sebaiknya membaca Al Qur’an dilakukan dengan bimbingan orang yang paham kaidah-kaidah tajwid.
       Al Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt. Kepada Nabi Muhammad saw. Al Qur’an menggunakan bahasa Arab. Untuk membecanya, ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan. Kaidah-kaidah itulah yang disebut ilmu tajwid.
A.     Hukum Bacaan Lam
Hukum bacaan Lam ada dua, yaitu Tafkhim dan Tarqiq.
1.      Lam Tafkhim
             Apabila ada huruf lam dalam lafzul jalalah (Allah) yang didahului dengan huruf berharakat fathah atau dammah, harus dibaca tafkhim yang berarti tebal. Cara mengucapkannya, kedua bibir menjorok ke depan.
2.      Lam Tarqiq
             Lam tarqiq adalah lam yang dibaca tipis dan posisi mulut tidak menjorok ke depan. Lam dibaca tipis apabila dalam lafzul jalalah didahului huruf yang berharakat kasrah.
B.      Hukum Bacaan Ra
Dalam ilmu tajwid, hokum hokum bacaan ra dibagi menjadi dua, yaitu Tafkhim dan Tarqiq.
1.      Ra Tafkhim
             Ra tafkhim adalah ra yang dibaca tebal. Ada 4 faktor yang menyebabkan ra dibaca tebal, yakni:
1)  Apabila ra berharakat dammah, fathah, fathatain, atau dammatain.
2)  Apabila ra berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dammah.
3)  Apabila ra berharakat sukun dan sebelumnya berharakat kasrah, tetapi kasrahnya tidak asli            dari kalimat tersebut.
4)  Apabila ra berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli dan huruf sesudahnya terdapat salah satu huruf isti’la’.
2.      Ra Tarqiq
             Ra       tarqiq adalah ra yang dibaca tipis. Ada 3 faktor yang menyebabkan ra di baca tipis, yakni;
1)      Apabila ra berharakat kasrah atau kasrahtain
2)      Apabila ra berharakat dammah atau dammatain dan huruf sebelumnya berupa ya sukun dan ra tersebut diwakafkan atau berhenti.
3)      Apabila ra berharaka sebelumnya berupa harakat kasrah yang asli, tetapi sesudah ra tidak ada huruf isti’la’.                                                                                    
C.      Jawazul wajhain
Ra disini boleh di baca tebal atau tipis apabila ra sukun sebelumnya berupa harakat kasrah dan sesudahnya berupa huruf isti’la’.




Rangkuman :
1.      Hukum bacaan lam dan ra ada dua, yaitu mufakhkhamah (tafkhim) yang berarti dibaca tebal dan muraqqaqah (tarqiq) yang berarti dibaca tipis.
2.      Jawazul wajhain adalah ra yang boleh dibaca tebal atau tipis.
3.      Jawazul wajhain terjadi apabila ra sukun yang didahului huruf yang berharakat kasrah dan diikuti huruf isti’la ada tujuh yaitu zha, qa, tha, gha, dha, sha, kha.
























BAB 2




TAMAK TERHADAP HARTA
       Islam tidak melarang umatnya memiliki harta yang banyak (kaya). Islam menghargai hak milik bagi setiap orang. Namun, kenyataan itu harus diperoleh dengan cara yang benar. Setelah mendapatkannya punharus dimanfaatkan secara benar. Penimbunan harta untuk kepentingan pribadi sangat dicela dalam Islam. Orang yang menimbun harta untuk kepentingan pribadi akan memperoleh balasan siksa di neraka.
       Islam mendidik umatnya untuk memiliki akhlak karimah (perilaku terpuji) dan menjauhi akhlak mazmumah (perilaku tercela). Salah satu perilaku tercela yang harus dijauhi ialah tamak terhadap harta. Sifat tamak terhadap harta sudah ada sejak adanya manusia. Banyak contoh yang dapat kit abaca, seperti Qarun dan Salabah.
       Zaman sekarang, tampaknya berkembang kehidupan yang bersifat konsumtif. Hal ini mendorog timbulnya sifat hidup tamak jika tidak didasari dengan keimanan yang kuat. Allah swt. Telah banyak mengingatkan kepada kita tentang bahaya orang yang memiliki sifat tamak, seperti dalam surah Al Humazah dan Takatsur.
      
1.      Pengertian tamak terhadap harta
       Kata tamak berasal dari bahasa arab yang berarti loba, rakus, dan terlampau besar keinginannya untuk memperoleh harta yang banyak. Pada hakikatnya, keinginan atau kecintaan terhadap harta merupakan sifat dasar manusia. Namun, banyak manusia yang kemudian mencintai harta secara berlebih-lebihan. Sifat inilah yang disebut dengan tamak. Sifat ini sangat dibenci, baik dalam pandangan manusia maupun Allah swt.
2.      Ciri-ciri Orang Yang Tamak Terhadap Harta
Orang-orang yang memiliki sifat tamak, dapat diketahui dari beberapa cirri, antara lai :
a.      Sangat mencintai harta yang telah dimiliki
b.      Terlampau bersemangat dalam mencari harta sehingga tidak memerhatikan waktu dan kondisi tubuh
c.       Terlalu hemat dalam membelanjakan harta
d.      Merasa berat untuk mengeluarkan harta guna kepentingan agama dan kemanusiaan
e.      Kurang memerhatikan urusan-urusan kemasyarakatan karena sibuk memikirkan harta
f.        Mendambakan kemewahan dunia dan kurang memerhatikan untuk kehidupan yang hakii, yaitu akhirat
g.      Semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi.




3.      Larangan Bersifat Tamak Terhadap Harta
       Allah swt. Sangat membenci orang yang tamak terhadap harta. Sebagaimana dalam Q.S Al Hadid/57 : 20. Menurut ayat tersebut, sifat-sifat kehidupan dunia ada empat macam, yaitu :
a.      Permainan yang didambakan manusia
b.      Senda gurauan yang membikin manusia lupa pada kebahagiaan hakiki
c.       Perhiasan yang dibanggakan manusia
d.      Tempat berlomba mencari kekayaan dan membanggakan keturunan.
4.      Menerapkan Kandungan Surah Al Humazah dan At Takatsur dalam Kehidupan Sehari-hari dan Akibatnya.
       Surah Al Humazah dan At Takatsur merupakan gambaran bagi kita akibat yang akan dialami orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mencintai harta.
·         Penerapan
Penerapan isi kandungan Surah Al Humazah dan At Takatsur dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
a.      Tidak terlalu mendambakan kehidupan dunia sehingga melupakan kehidupan akhirat
b.      Bersikap wajar dalam bekerja mecari rezeki dengan tetap memerhatikan norma-norma agama
c.       Bersikap qanaah(rela menerima kenyataan hidup) dengan mensyukuri rezeki yang diperoleh dan tidak merasa kurang
d.      Berusaha memanfaatkan rezeki yang diperoleh sesuai agama
e.      Mengeluarkan sebagian rezeki dengan bersedekah,berinfaq,dan berzakat jika sudah mencapai nishab
f.        Dalam urusan dunia, selalu melihat orang yang lebih rendah
g.      Tidak bersifat kikir/bakhil terhadap harta yang dimiliki
·         Akibat (dampak positif)
Tamak terhadap harta merupakan salah satu larangan agama. Jika mampu menghindari sifat tersebut, kalian akan memperoleh kebaikan-kebaikan,antara lain:
a.      Terpuji dalam pandangan manusia dan Allah SWT
b.      Disukai dalam pergaulan dalam sesame
c.       Memperoleh ketentraman hidup karena merasa cukup dan tidak selalu merasa kurang dengan rezeki yang diberikan Allah SWT
d.      Tidak mudah terpengaruh oleh sikap hidu mewah yang cenderung pada kufur nikmat
e.      Mendapatkan pahala dari Allah SWT. Karena mampu menjahui larangan-Nya
f.        Selamat dari ancaman siksa api neraka






Rangkuman :
1.      Tamak terhadap harta berarti terlalu berkeningan untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Tamak merupakan akhlak tercela yang harus dijahui setiap muslim.
2.      Ciri-ciri orang yang tamak, antara lain sangat mencintai harta yang telah dimiliki, terlampau bersemangat dalam mencari harta sehingga tidak memperhatikan waktu dan kondisi tubuh; terlalu hemat dalam membelanjakan harta; untuk kepentingan agama dan kemanusiaan; kurang memperhatikan urusan-urusan kemasyarakatan karna sibuk memikirkan harta; mendambakan kemewahan dunia dan kurang memperhatikan untuk kehidupan yang hakiki yaitu akhirat; semua perbuatannya selalu bertendesi pada materi.
3.      Kemewahan hidup di dunia hanyalah permainan dan snda gurau. Hidup di dunia hanyalah sementara sehingga tidak sepantasnya kita berbangga dan bermegah-megahan terhadap harta yang kita miliki.
4.      Surat Al-Humazah dan At-Takasur adalah dua surat yang memiliki keterkaitan dalam kandungannya. Kedua surat ini menjelaskan akibat bagi orang yang berlebih-lebihan mencintai harta sehingga melupaka kehidupan akhirat. Selain itu, kedua surat ini juga menjelaskan akibat bagi orang yang memiliki sifat mencintai harta dengan berlebihan dan melupakan akhirat. Mereka akan memperoleh balasan dari Allah SWT. Berupa neraka.  


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar